Kementan-FAO luncurkan buku panduan hadapi penyakit infeksi

Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Pertanian bersama dengan organisasi pangan dan pertanian PBB, FAO, meluncurkan tiga buku panduan dalam menghadapi penyakit infeksi baru/berulang (PIB) dan zoonosis atau penyakit hewan menular ke manusia.

“Dengan semakin tingginya arus lalu lintas, baik manusia, barang dan hewan, seluruh dunia akan mengalami peningkatan ancaman penyakit. Oleh karena itu, kami berupaya meningkatkan kewaspadaan dan memitigasi agar tidak terjadi penularan,” kata Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Fadjar Sumping dalam acara peluncuran di Jakarta, Selasa.

Fadjar mengatakan buku panduan tersebut difokuskan untuk menguatkan kapasitas petugas di lapangan dalam mendeteksi, mencegah dan mengendalikan wabah penyakit dan juga membantu para pembuat keputusan di tingkat daerah dan nasional melalui pendekatan One Health.

Ia menyebutkan ketiga dokumen yang diluncurkan hari ini, yaitu “Strategi Komunikasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Infeksi Baru/Berulang dan Zoonosis Tertarget dengan Pendekatan One Health.”

Dokumen kedua berjudul “Modul Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru untuk Petugas Lapang Tiga Sektor dengan Pendekatan One Health”; dan ketiga “Buku Panduan Praktis Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru (PIB) melalui Optimalisasi Fungsi Puskeswan dengan Dukungan Dana Desa.”

Menurut Fadjar, ketiga dokumen penting tersebut berisi panduan bagaimana mengerahkan semua kemampuan dalam menghadapi ancaman terjadinya wabah.

Pembuatan buku ini juga merupakan hasil dari kolaborasi, koordinasi dan komunikasi sejumlah kementerian, seperti Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Ia menilai banyak masyarakat Indonesia yang selama ini hanya mengenal bencana dalam konteks alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi dan sebagainya. Padahal, menurutnya, ada bencana non alam, yaitu wabah penyakit yang juga tidak kalah mengkhawatirkan, jika Indonesia tidak bersiap dalam menghadapinya.

“Kita pernah merasakan wabah flu burung tahun 2003 lalu, di mana penyakit tersebut sempat menyebabkan kematian pada manusia. Hal ini tentunya harus kita antisipasi dan jangan sampai terulang kembali,” kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Asisten Deputi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kemenko PMK Naalih Kalsum menyampaikan epidemi Ebola yang terjadi di Afrika pada tahun 2016 dan kematian manusia yang disebabkan oleh penyakit Zoonosis setiap tahun, mengindikasikan hubungan kuat antara kesehatan manusia, kesehatan hewan dan lingkungan.

Untuk itu, Ia berpendapat, pendekatan multisektoral menjadi penting untuk mendeteksi, mencegah dan mengendalikan ancaman tersebut, atau yang dikenal dengan sebutan pendekatan One Health.

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2019