Harga minyak merosot, produksi AS meningkat

New York (ANTARA News) – Harga minyak turun sekitar tiga persen pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), persentase penurunan satu hari terbesar dalam sebulan, setelah peningkatan dalam pengeboran minyak mentah AS menunjukkan pertumbuhan pasokan lebih lanjut di tengah bertahannya kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret turun 1,71 dolar AS atau 2,8 persen, menjadi menetap pada 59,93 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret merosot 1,70 dolar AS atau 3,2 persen, menjadi ditutup pada 51,99 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Terakhir kali kedua acuan minyak mentah melihat persentase penurunan harian yang lebih besar terjadi pada 27 Desember tahun lalu.

“Kami melihat harga minyak benar-benar mulai rusak di sini,” kata Senior Ahli Strategi Pasar di RJO Futures di Chicago,  Phillip Streible, seperti dikutip Reuters. “Salah satu faktor yang berperan (dalam harga) adalah meningkatnya jumlah rig yang kami lihat pada hari Jumat (25/1).”

Perusahaan-perusahaan pengebor AS menambahkan 10 rig minyak minggu lalu, menurut perusahaan jasa energi Baker Hughes pada Jumat (25), sebuah tanda lain dari rekor ekspansi produksi minyak AS yang telah membebani sentimen pasar.

Perang perdagangan antara Washington dan Beijing juga menekan pasar karena optimisme investor berkurang bahwa kedua belah pihak akan segera mengakhiri perang tarif selama berbulan-bulan yang telah merusak ekonomi China.

Itu, ditambah dengan ketidakpastian tentang berapa lama pemerintah AS akan tetap dibuka setelah Washington setuju untuk mengakhiri penutupan pemerintahan bersejarah, mengurangi optimisme investor, kata Direktur Riset Pasar di Tradition Energy Gene McGillian di Stamford, Connecticut, Amerika Serikat.

“Saya pikir kedua faktor tersebut tampaknya telah memicu kekhawatiran tentang melambatnya pertumbuhan permintaan, yang telah menjadi salah satu pendorong utama penurunan di pasar untuk sementara waktu,” kata McGillian.

Minyak mentah berjangka tetap di jalur untuk kenaikan bulanan terkuat mereka dalam lebih dari dua tahun, setelah pemotongan produksi oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya bulan ini.

Brent telah naik hampir 12 persen sejauh pada Januari, yang akan menjadi persentase peningkatan bulanan terbesar sejak Desember 2016. WTI telah naik lebih dari 13 persen bulan ini, lompatan terbesar sejak April 2016, ketika melonjak hampir 20 persen.

Investor telah menambah taruhan pada kenaikan berkelanjutan harga minyak bulan ini untuk pertama kalinya sejak September, menurut data dari InterContinental Exchange.

Sebagian besar prospek permintaan bergantung pada China dan apakah penyuling-penyulingnya akan terus mengimpor minyak mentah pada laju yang sangat tinggi 2018.

Perusahaan-perusahaan industri di China melaporkan penurunan laba bulanan kedua pada Desember, terlepas dari upaya pemerintah untuk mendukung pinjaman dan investasi.

Baca juga: Pelemahan dolar berlanjut, investor tunggu kebijakan moneter AS

Baca juga: Harga emas tembus 1.300 dolar AS, tertinggi dalam 7 bulan

Baca juga: Analis: Rupiah diprediksi terus menguat, Fed cenderung “dovish”

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019